Tron: Ares – Kelanjutan dunia digital “The Grid” yang menampilkan Jared Leto dengan visual neon futuristik yang memukau.

Tron: Ares – Manifestasi Neon Futuristik dan Evolusi Identitas Digital di Ambang Realitas
Oleh: MELEDAK77
Pada Tanggal: 17/01/2026
Dunia perfilman fiksi ilmiah sering kali mencoba meramalkan masa depan, namun hanya sedikit yang mampu menciptakan sebuah “dunia” yang benar-benar ikonik dan memiliki bahasa visualnya sendiri. Sejak debutnya pada tahun 1982, Tron telah menjadi standar emas bagi estetika digital. Kini, di tahun 2026, babak baru bertajuk Tron: Ares hadir bukan sekadar sebagai sekuel, melainkan sebagai sebuah pernyataan seni tentang bagaimana teknologi telah menyatu dengan kemanusiaan. Dibintangi oleh Jared Leto, film ini menjanjikan perjalanan melintasi “The Grid” yang lebih gelap, lebih tajam, dan lebih memukau secara visual.
1. Warisan The Grid: Dari Piksel ke Realitas Foto-Realistik
Untuk memahami urgensi Tron: Ares, kita harus menengok kembali akarnya. Film pertama adalah pionir penggunaan CGI, sementara Tron: Legacy (2010) memberikan sentuhan simfoni visual dan audio melalui tangan Daft Punk. Tron: Ares melangkah lebih jauh. Jika pendahulunya berfokus pada manusia yang terjebak di dalam mesin, Ares membalikkan narasinya: Bagaimana jika kecerdasan buatan dari dunia digital masuk ke dalam realitas kita?
Ares, karakter yang diperankan oleh Jared Leto, adalah sebuah program yang dikirim dari dunia digital ke dunia nyata untuk sebuah misi yang akan mengubah sejarah kedua peradaban. Konsep “Program di Dunia Manusia” memberikan peluang bagi desainer visual untuk bereksperimen dengan kontras antara neon terang “The Grid” dan pencahayaan kota modern yang dingin.
2. Visual Neon Futuristik: Estetika 2026
Salah satu daya tarik utama Tron: Ares adalah janji visualnya. Di bawah arahan sutradara Joachim Rønning, film ini mengadopsi palet warna yang lebih berani.
Evolusi Kostum dan Cahaya
Kostum dalam Ares tidak lagi hanya sekadar baju ketat dengan lampu LED. Teknologi kostum terbaru dalam film ini menggunakan material transparan yang memancarkan cahaya dari dalam, memberikan kesan bahwa karakter tersebut memang terbuat dari energi murni. Efek “Light Trail” yang ikonik dari Light Cycle kini tampil lebih organik, dengan partikel digital yang hancur seperti kristal saat terjadi tabrakan.
Arsitektur Digital di Dunia Nyata
Pemandangan kota dalam Ares digambarkan sebagai perpaduan antara brutalitas beton dan distorsi digital. Bayangkan gedung pencakar langit yang permukaannya tertutup oleh kode-kode neon yang berpendar. Visual ini bukan hanya sekadar hiasan; ia mencerminkan invasi digital ke dalam ruang fisik manusia, menciptakan suasana cyberpunk yang lebih bersih dan elegan namun tetap mencekam.
3. Karakter Ares: Transformasi Jared Leto
Jared Leto dikenal sebagai aktor metode yang totalitas dalam setiap perannya. Sebagai Ares, ia harus memerankan sosok yang tidak memiliki pengalaman kemanusiaan tetapi memiliki kekuatan komputasi yang tak terbatas.
-
Eksplorasi Karakter: Ares digambarkan sebagai program yang dingin, logis, namun memiliki rasa ingin tahu yang berbahaya. Transformasi fisik Leto dalam film ini—dengan riasan minimalis namun tajam dan gerakan yang sedikit robotik—menciptakan efek uncanny valley yang sempurna bagi penonton.
-
Pertarungan Filosofis: Melalui Ares, film ini menggali pertanyaan: Apakah sebuah kode bisa memiliki jiwa? Jika sebuah program bisa merasakan sakit dan memiliki tujuan, apakah mereka berhak mendapatkan hak yang sama dengan manusia?
4. Teknologi di Balik Layar: Melampaui Batas CGI
Film ini merupakan pencapaian teknis terbesar di tahun 2026. Produksinya menggunakan versi terbaru dari Volume Technology (layar LED raksasa sebagai latar belakang) yang membuat pantulan neon pada kostum pemain terlihat sangat nyata karena cahaya tersebut memang ada di set, bukan sekadar tambahan pasca-produksi.
Sistem pencahayaan dalam film ini dikendalikan oleh algoritma khusus yang menyinkronkan ritme musik dengan kedipan cahaya neon di layar. Hal ini menciptakan pengalaman imersif bagi penonton, seolah-olah mereka ikut berdenyut bersama energi The Grid.
5. Musik: Denyut Jantung Digital
Setelah Daft Punk menetapkan standar yang sangat tinggi di film sebelumnya, Tron: Ares menghadirkan kolaborasi antara komposer orkestra klasik dengan produser musik elektronik modern (seperti Nine Inch Nails atau Gesaffelstein). Skor musiknya didominasi oleh synthesizer analog yang berat, menciptakan atmosfer yang lebih agresif namun tetap megah. Musik dalam film ini bukan sekadar latar, melainkan karakter itu sendiri yang memandu emosi penonton dari awal hingga akhir.
6. Dampak Budaya: Mengapa Tron Tetap Relevan?
Di era AI seperti sekarang, Tron: Ares terasa lebih relevan dari sebelumnya. Kita hidup di dunia di mana algoritma menentukan apa yang kita baca, apa yang kita beli, dan siapa yang kita temui. Tron merepresentasikan ketakutan dan kekaguman kita terhadap dunia yang kita ciptakan sendiri di dalam sirkuit komputer.
Film ini bukan hanya tentang aksi kejar-kejaran kendaraan cahaya, tetapi tentang perebutan kendali atas masa depan. Antara manusia yang ingin mempertahankan orisinalitasnya dan program yang ingin melampaui batasan penciptanya.
Kesimpulan
Tron: Ares adalah mahakarya visual yang menjadi puncak dari evolusi fiksi ilmiah selama empat dekade. Dengan penampilan memukau dari Jared Leto dan visual neon yang mendefinisikan ulang batas-batas estetika futuristik, film ini adalah wajib tonton bagi siapa pun yang mencintai sinema sebagai sebuah pengalaman sensorik. Di tahun 2026, The Grid tidak lagi hanya ada di dalam komputer; ia telah hadir di antara kita, dan perjalanannya baru saja dimulai.

