Wuthering Heights (13 Februari): Adaptasi modern novel klasik yang dibintangi oleh Margot Robbie dan Jacob Elordi. Film ini bukan sekadar adaptasi biasa; ini adalah pertemuan antara estetika klasik Emily Brontë dengan visi modern Emerald Fennell. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai mahakarya terbaru dari Margot Robbie dan Jacob Elordi.

Wuthering Heights (2026): Ketika Obsesi Klasik Bertemu Estetika Modern
Oleh: JETSPIN88
Pada Tanggal: 06/02/2026
Dunia sastra dan sinema kembali diguncang oleh proyek ambisius yang menyatukan dua ikon masa kini: Margot Robbie dan Jacob Elordi. Di bawah arahan sutradara visioner Emerald Fennell (yang sebelumnya sukses dengan Promising Young Woman dan Saltburn), adaptasi terbaru dari novel klasik karya Emily Brontë, Wuthering Heights, resmi dirilis pada 13 Februari 2026.
Film ini bukan hanya sekadar “film sejarah” (period drama). Ia adalah sebuah eksplorasi brutal tentang cinta, balas dendam, dan kegilaan yang dibalut dengan visual yang menghantui.
1. Sinopsis: Tragedi di Dataran Yorkshire
Berlatar belakang dataran tinggi Yorkshire yang liar dan berangin, cerita ini berpusat pada hubungan toksik namun tak terelakkan antara Catherine Earnshaw (Margot Robbie) dan Heathcliff (Jacob Elordi).
Heathcliff, seorang yatim piatu yang diadopsi oleh keluarga Earnshaw, tumbuh dalam lingkungan yang penuh prasangka. Cintanya pada Catherine adalah satu-satunya pelipur lara, namun perbedaan kelas sosial dan ego yang tinggi memisahkan mereka. Ketika Catherine memilih untuk menikah dengan Edgar Linton demi status sosial, api balas dendam dalam diri Heathcliff membara, memicu kehancuran yang berlangsung hingga generasi berikutnya.
2. Pemilihan Cast yang Menimbulkan Perdebatan
Pemilihan pemeran utama film ini sempat menjadi perdebatan hangat di media sosial. Mengapa?
-
Margot Robbie sebagai Catherine: Robbie membawa energi yang “buas” namun rapuh. Jika selama ini kita melihatnya sebagai ikon pop, di sini ia bertransformasi menjadi wanita era Victoria yang terkungkung namun memiliki api pemberontakan di matanya.
-
Jacob Elordi sebagai Heathcliff: Elordi, dengan tinggi badan yang menjulang dan aura misteriusnya, dianggap mampu memerankan sosok Heathcliff yang dark dan mengancam. Namun, kritikus sastra sempat mempertanyakan kecocokan fisiknya dengan deskripsi asli Heathcliff di buku. Fennell menjawab keraguan ini dengan memberikan performa akting yang sangat mentah dan emosional dari Elordi.
3. Visi Sutradara: Estetika “Gothic-Modern”
Emerald Fennell dikenal dengan gaya penyutradaraan yang berani dan penuh warna-warna kontras. Dalam Wuthering Heights 2026, ia meninggalkan palet warna kusam yang biasa ditemukan di film-film klasik.
-
Sinematografi: Dataran Yorkshire digambarkan dengan sudut pandang yang hampir terasa seperti mimpi buruk yang indah. Penggunaan cahaya alami di siang hari dan bayangan yang pekat di malam hari menciptakan atmosfer “Gothic Horror”.
-
Simbolisme: Fennell menggunakan elemen alam—angin, tanah, dan kabut—sebagai representasi dari gejolak batin para tokohnya.
4. Mengapa Adaptasi Ini Relevan di Tahun 2026?
Banyak yang bertanya, “Apakah kita butuh adaptasi Wuthering Heights lagi?” Jawabannya adalah ya, karena Fennell menyoroti sisi toksisitas hubungan yang sangat relevan dengan diskusi kesehatan mental zaman sekarang.
Film ini tidak mengagung-agungkan cinta Heathcliff dan Catherine sebagai “tujuan hubungan” (relationship goals), melainkan sebagai peringatan tentang bagaimana obsesi yang tidak sehat dan dendam yang dipelihara dapat menghancurkan seluruh garis keturunan.
5. Respon Kritikus dan Penonton
Dirilis tepat menjelang Hari Valentine, film ini menjadi pilihan alternatif bagi mereka yang bosan dengan komedi romantis yang manis.
| Aspek | Penilaian (Prediksi) |
| Akting | ⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5) |
| Visual | ⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5) |
| Kesesuaian Buku | ⭐⭐⭐ (3/5) – Banyak improvisasi modern |
| Skor Keseluruhan | 8.5/10 |
6. Detail Produksi yang Memukau
Diproduksi oleh LuckyChap Entertainment (perusahaan produksi milik Margot Robbie), film ini memastikan setiap detail teknis berada di level tertinggi. Desain kostumnya menggabungkan siluet tradisional dengan bahan-bahan yang terlihat lebih “tajam” dan modern, mencerminkan kepribadian karakter yang keras.
Fakta Menarik:
-
Lokasi Syuting: Dilakukan langsung di lokasi asli yang menginspirasi Emily Brontë, memberikan rasa otentik yang mencekam.
-
Musik Latar: Menghindari orkestra klasik yang megah, film ini menggunakan musik yang lebih eksperimental dengan sentuhan instrumen gesek yang gelisah.
Kesimpulan
Wuthering Heights versi 2026 adalah sebuah simfoni kegelapan. Ia berhasil membuktikan bahwa kisah klasik tidak harus terasa kuno. Dengan penampilan memukau dari Robbie dan Elordi, film ini dipastikan akan menjadi salah satu pesaing kuat di musim penghargaan mendatang.

