Queen of Tears (2024): Kisah rumah tangga ajaib antara pewaris department store dan pengacara desa. Siapkan tisu karena emosinya naik turun!

Queen of Tears: Dekonstruksi Cinta, Gengsi, dan Keajaiban dalam Retaknya Rumah Tangga Chaebol
Oleh: JETSPIN88
Pada Tanggal: 09/02/2026
Industri hiburan Korea Selatan kembali diguncang oleh mahakarya penulis Park Ji-eun melalui drama bertajuk Queen of Tears. Sejak penayangan perdana hingga episode finalnya di tahun 2024, drama ini bukan sekadar menjadi tontonan akhir pekan, melainkan fenomena budaya global. Dengan memasangkan dua bintang besar, Kim Soo-hyun dan Kim Ji-won, drama ini berhasil mengeksplorasi sisi gelap sekaligus sisi paling terang dari sebuah pernikahan yang berada di ambang kehancuran.
1. Premis: Ketika Dongeng Berakhir di Titik Jenuh
Banyak drama Korea berakhir dengan pernikahan mewah sebagai simbol “bahagia selamanya”. Namun, Queen of Tears justru memulai ceritanya dari titik di mana dongeng itu hancur.
Baek Hyun-woo (Kim Soo-hyun), seorang pengacara jenius lulusan Seoul National University yang berasal dari desa Yongdu-ri, jatuh cinta pada Hong Hae-in (Kim Ji-won), yang ternyata adalah pewaris dari Queens Group, salah satu konglomerat terbesar di Korea. Pernikahan mereka awalnya dianggap sebagai “pernikahan abad ini”. Namun, tiga tahun berlalu, dan kenyataan pahit menghantam: Hyun-woo merasa tercekik oleh keluarga besar Hae-in yang dingin dan otoriter, sementara Hae-in sendiri bertransformasi menjadi sosok istri yang kaku dan sulit didekati.
Intrik dimulai ketika Hyun-woo yang sudah berniat menggugat cerai, tiba-tiba mendengar kabar bahwa Hae-in didiagnosis menderita penyakit langka yang membuat hidupnya hanya tersisa tiga bulan lagi. Di sinilah letak ironinya: Hyun-woo harus menunda perceraian dan justru mulai “berakting” menjadi suami yang perhatian, yang tanpa ia sadari, perlahan-lahan menghidupkan kembali api cinta yang lama padam.
2. Bedah Karakter: Kontradiksi yang Memikat
Hong Hae-in: Sang Ratu yang Terluka
Hae-in bukanlah protagonis wanita yang lemah lembut. Ia adalah “Queen” dalam arti sebenarnya—dingin, kompetitif, dan tidak mengenal kata menyerah. Kim Ji-won berhasil membawakan karakter ini dengan sangat elegan. Di balik ketegasannya di meja rapat, Hae-in adalah sosok yang sangat kesepian. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang menyalahkannya atas tragedi masa lalu, membuatnya membangun tembok pertahanan yang tinggi. Penyakit Cloud Cytoma yang ia derita menjadi katalis yang meruntuhkan tembok tersebut, memaksa Hae-in untuk kembali menjadi manusia yang rapuh dan butuh dicintai.
Baek Hyun-woo: Pahlawan yang Tertekan
Kim Soo-hyun membuktikan kelasnya sebagai aktor dengan bayaran tertinggi lewat peran Hyun-woo. Ia mampu mengekspresikan emosi yang kompleks—mulai dari rasa benci yang lucu, ketakutan pada mertua, hingga rasa bersalah yang menghancurkan jiwa. Hyun-woo adalah representasi dari pria yang kehilangan jati dirinya karena cinta, namun menemukan kembali keberaniannya saat orang yang dicintainya terancam. Chemistry-nya dengan Kim Ji-won dianggap sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah K-drama karena mampu menyampaikan perasaan hanya melalui tatapan mata.
3. Konflik dan Intrik: Lebih dari Sekadar Romansa
Queen of Tears tidak hanya menjual air mata dari hubungan suami-istri. Drama ini memiliki lapisan konflik yang solid:
-
Perebutan Kekuasaan di Queens Group: Masuknya karakter Yoon Eun-seong (Park Sung-hoon) sebagai antagonis memberikan bumbu thriller dan politik bisnis. Rencana licik untuk merebut perusahaan dari tangan keluarga Hong menambah ketegangan di setiap episodenya.
-
Perbedaan Kelas (Desa vs. Kota): Kontras antara keluarga Hyun-woo di Yongdu-ri yang hangat dan berisik dengan keluarga Hong yang kaku dan penuh rahasia memberikan sentuhan komedi sekaligus kritik sosial tentang apa arti “keluarga” yang sebenarnya.
-
Misteri Masa Lalu: Rahasia mengenai tenggelamnya kakak Hae-in dan hubungan masa kecil antara Hyun-woo dan Hae-in memberikan benang merah yang menyatukan takdir mereka sejak lama.
4. Estetika Visual dan Sinematografi
Salah satu alasan mengapa drama ini terasa begitu megah adalah kualitas produksinya. Pengambilan gambar di Jerman, tepatnya di lokasi-lokasi ikonik seperti Sanssouci Park, memberikan kesan puitis pada momen-momen krusial mereka. Penggunaan warna dalam drama ini juga sangat bercerita; warna-warna dingin saat mereka sedang berselisih, dan transisi ke warna-warna hangat saat mereka mulai berdamai dengan perasaan masing-masing.
5. Pesan Moral: Mengapa Kita Menangis?
Judul Queen of Tears bukan hanya merujuk pada Hae-in yang mulai bisa menangis setelah sekian lama memendam emosi, tapi juga penonton yang dipaksa merefleksikan hubungan mereka sendiri. Drama ini mengajarkan bahwa:
-
Komunikasi adalah Kunci: Masalah utama Hyun-woo dan Hae-in bukanlah kurangnya cinta, melainkan ketidakmampuan untuk jujur tentang perasaan masing-masing.
-
Cinta adalah Pilihan: Di saat-saat tersulit, mencintai bukan lagi soal perasaan instan, melainkan keputusan untuk tetap bertahan meski badai datang.
-
Waktu adalah Harta: Kita seringkali baru menghargai kehadiran seseorang saat waktu yang tersisa sudah sangat sedikit.
6. Penutup: Legacy dari Queen of Tears
Dengan rating yang melampaui Crash Landing on You, drama ini telah mengukuhkan posisinya sebagai standar baru dalam genre romance-melodrama. Perpaduan antara naskah yang cerdas, akting kelas atas, dan lagu tema (OST) yang menyayat hati membuat Queen of Tears akan terus dibicarakan hingga bertahun-tahun mendatang.

