Ahlan Singapore (Tayang sejak 5 Feb): Drama romantis tentang hubungan jarak jauh (LDR) antara Aisyah (Rebecca Klopper) dan Rama (Kiesha Alvaro).

Ahlan Singapore: Manifestasi Rindu dan Dilema Komitmen di Seberang Selat
Oleh: JETSPIN88
Pada Tanggal: 05/02/2026
Fenomena hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship (LDR) telah lama menjadi momok sekaligus ujian bagi banyak pasangan di era modern. Namun, bagaimana jika jarak tersebut bukan sekadar dipisahkan oleh kilometer, melainkan oleh ambisi, perbedaan budaya kerja, dan tekanan keluarga di dua negara yang bertetangga namun berbeda ritme? Itulah premis utama yang diangkat dalam film terbaru besutan sutradara kenamaan Indonesia, “Ahlan Singapore”.
Resmi menghiasi layar lebar sejak 5 Februari 2026, film ini tidak hanya menawarkan pemandangan estetik dari gemerlapnya Marina Bay atau sudut-sudut syahdu kota Jakarta, tetapi juga membedah anatomi kepercayaan dalam sebuah hubungan. Dibintangi oleh dua aktor muda berbakat, Rebecca Klopper sebagai Aisyah dan Kiesha Alvaro sebagai Rama, film ini menjadi salah satu sajian drama romantis yang paling banyak dibicarakan di awal tahun ini.
Eksplorasi Narasi: Bukan Sekadar Jarak Fisik
Cerita dimulai dengan perpisahan yang emosional di Bandara Soekarno-Hatta. Aisyah, seorang desainer grafis ambisius, mendapatkan kesempatan emas untuk bekerja di salah satu agensi kreatif ternama di Singapura. Di sisi lain, Rama adalah seorang arsitek muda yang sedang merintis karier di Jakarta dan tidak bisa meninggalkan tanggung jawab keluarganya.
“Ahlan Singapore”—yang secara harfiah berarti “Selamat Datang di Singapura”—menjadi judul yang ironis. Bagi Aisyah, Singapura adalah selamat datang bagi mimpi-mimpinya. Namun bagi Rama, itu adalah ucapan selamat tinggal bagi keseharian mereka yang biasanya dilewati bersama.
Narasi film ini dibagi menjadi tiga babak besar: Euforia, Keretakan, dan Rekonsiliasi. Pada babak pertama, penonton disuguhi kemanisan teknologi. Video call hingga larut malam, pengiriman hadiah kejutan melalui aplikasi ojek online internasional, hingga janji-janji untuk bertemu setiap bulan. Sutradara berhasil menangkap bagaimana teknologi menjadi “napas” buatan bagi pasangan LDR.
Namun, memasuki babak kedua, realitas mulai menggigit. Singapura dengan ritme kerjanya yang sangat cepat (fast-paced) mulai menyita waktu Aisyah. Sementara itu, Rama di Jakarta merasa tertinggal. Perbedaan zona waktu yang sebenarnya hanya satu jam terasa seperti jurang yang dalam ketika ego mulai bermain. Konflik memuncak saat munculnya karakter orang ketiga yang bukan berupa manusia, melainkan “pekerjaan” dan “rasa kesepian”.
Chemistry Rebecca Klopper dan Kiesha Alvaro
Salah satu kekuatan utama film ini adalah pemilihan pemain. Rebecca Klopper memberikan performa yang sangat matang sebagai Aisyah. Ia berhasil menunjukkan transformasi karakter dari gadis Jakarta yang ceria menjadi wanita karier yang penuh tekanan namun tetap rapuh di dalam hati. Ekspresi wajahnya saat menatap layar ponsel di tengah keramaian stasiun MRT Orchard Road mampu menyampaikan rasa kesepian yang mendalam tanpa perlu banyak dialog.
Di sisi lain, Kiesha Alvaro membuktikan bahwa dirinya bukan lagi sekadar aktor remaja. Sebagai Rama, ia menampilkan sosok pria yang suportif namun menyimpan rasa tidak aman (insecurity). Kiesha berhasil mengeksekusi adegan-adegan kemarahan yang tertahan dengan sangat baik, membuat penonton bersimpati pada posisinya yang merasa “ditinggalkan” secara emosional.
Chemistry keduanya terasa sangat organik. Kedekatan mereka di kehidupan nyata mungkin membantu membangun kedalaman emosi di layar, terutama dalam adegan-adegan perdebatan melalui telepon yang terasa sangat nyata dan menyakitkan.
Analisis Visual dan Sinematografi
Secara visual, “Ahlan Singapore” adalah sebuah surat cinta untuk kedua kota tersebut. Sinematografer film ini menggunakan palet warna yang kontras untuk menggambarkan perasaan kedua karakter utama:
-
Jakarta (Palet Warna Hangat/Warm): Menggunakan warna-warna jingga dan cokelat untuk melambangkan kenyamanan, kenangan masa lalu, dan kehangatan rumah.
-
Singapura (Palet Warna Dingin/Cool): Menggunakan warna biru metalik dan neon untuk menggambarkan kemajuan, kemewahan, namun juga sisi dingin dan kesendirian Aisyah di negeri orang.
Penggunaan teknik split screen dalam beberapa adegan komunikasi digital memberikan dimensi baru bagi penonton untuk melihat perbedaan aktivitas mereka secara simultan. Kita melihat Aisyah yang sedang berlari mengejar bus di Singapura, sementara di sisi layar lainnya, Rama sedang terjebak macet di Jakarta sambil memandangi foto mereka. Ini adalah metafora visual yang kuat tentang bagaimana dua orang yang mencintai tetap berada di lintasan hidup yang berbeda.
Tema LDR di Era Digital: Apakah Cukup dengan Layar?
Film ini melontarkan pertanyaan besar bagi generasi Gen Z dan Milenial: Apakah komunikasi digital benar-benar bisa menggantikan kehadiran fisik?
Dalam salah satu dialog yang paling berkesan, Rama berkata, “Aku bisa melihat wajahmu di layar setiap detik, Syah. Tapi aku tidak bisa menggenggam tanganmu saat kamu sedang sedih.” Kalimat ini merangkum seluruh konflik batin yang dialami jutaan pasangan di luar sana.
“Ahlan Singapore” juga menyoroti masalah burnout dan kesehatan mental. Aisyah yang berusaha membuktikan kemampuannya di Singapura seringkali harus mengabaikan kehidupan pribadinya demi karier. Film ini mengkritik budaya kerja berlebihan (hustle culture) yang seringkali mengorbankan hubungan interpersonal.
Soundtrack yang Menggugah
Musik latar dan original soundtrack (OST) memegang peranan penting dalam membangun suasana melankolis. Lagu tema utama yang dibawakan dengan aransemen piano yang minimalis menambah kesan kesunyian. Setiap kali melodi tersebut muncul, penonton seolah diajak untuk ikut merasakan kerinduan yang dirasakan oleh Aisyah dan Rama.
Kesimpulan: Sebuah Refleksi Cinta Modern
“Ahlan Singapore” bukan sekadar film tentang cinta beda negara. Ini adalah refleksi tentang pengorbanan, pendewasaan, dan bagaimana mendefinisikan “rumah”. Apakah rumah adalah tempat tinggal kita, ataukah rumah adalah seseorang yang menanti kita di ujung telepon?
Dengan durasi sekitar 110 menit, film ini berhasil menjaga ritme emosinya tetap stabil. Meskipun ada beberapa bagian yang terasa lambat di pertengahan, namun hal itu justru memberikan ruang bagi penonton untuk merenung.
Bagi Anda yang sedang menjalani LDR, film ini mungkin akan terasa seperti cermin yang jujur—terkadang pahit, namun juga memberikan harapan. Bagi mereka yang tidak, film ini adalah pengingat untuk menghargai setiap detik kehadiran pasangan di sisi kita.
Skor Penulis: 8.5/10

