Coco: Keajaiban Melodi, Warisan Leluhur 2017

Coco (2017): Animasi indah tentang keluarga, musik, dan kenangan. Coco (2017) bukan sekadar film anak-anak; ia adalah sebuah surat cinta untuk budaya Meksiko, studi mendalam tentang duka, dan eksplorasi tentang bagaimana memori membentuk identitas kita.

Coco 2017
Coco 2017

Coco (2017): Keajaiban Melodi, Warisan Leluhur, dan Keabadian dalam Ingatan

Oleh: MELEDAK77
Pada Tanggal: 08/01/2026

Film animasi sering kali dianggap sebagai hiburan ringan untuk audiens muda. Namun, sesekali muncul sebuah karya yang menembus batas usia, bahasa, dan budaya. Coco, film rilisan Disney-Pixar tahun 2017, adalah salah satunya. Disutradarai oleh Lee Unkrich dan Adrian Molina, Coco bukan sekadar tontonan visual yang memukau, melainkan sebuah refleksi filosofis tentang apa artinya diingat dan bagaimana keluarga mendefinisikan siapa diri kita.

1. Premis dan Latar Belakang Budaya

Terletak di desa fiktif Santa Cecilia, Meksiko, kita diperkenalkan pada Miguel Rivera, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang memiliki impian besar menjadi musisi seperti idolanya, Ernesto de la Cruz. Namun, ada satu kendala besar: keluarganya telah melarang musik selama beberapa generasi. Larangan ini berakar dari luka lama ketika kakek buyut Miguel meninggalkan istri (Mama Imelda) dan anaknya (Mama Coco) demi mengejar karier musik.

Latar waktu film ini diambil selama Día de los Muertos (Hari Orang Mati), sebuah tradisi nyata di Meksiko di mana keluarga berkumpul untuk menghormati leluhur mereka. Pilihan latar ini bukan sekadar estetika. Pixar menghabiskan waktu bertahun-tahun melakukan riset di Meksiko untuk memastikan bahwa representasi budaya—mulai dari bunga marigold (cempasari), ofrenda (altar), hingga makanan seperti tamales—digambarkan dengan akurasi dan rasa hormat yang tinggi.

2. Perjalanan Menuju Dunia Orang Mati

Konflik memuncak ketika Miguel secara tidak sengaja “mencuri” gitar dari makam Ernesto de la Cruz pada malam perayaan. Tindakan ini membawanya masuk ke “Land of the Dead” (Dunia Orang Mati). Di sini, visualisasi Pixar mencapai puncaknya. Dunia ini digambarkan sebagai kota vertikal yang berpijar dengan jutaan lampu, penuh dengan struktur arsitektur yang mencerminkan sejarah Meksiko dari zaman Aztec hingga modern.

Di dunia ini, Miguel bertemu dengan Héctor, seorang roh gelandangan yang putus asa karena fotonya tidak dipasang di ofrenda mana pun. Jika tidak ada seorang pun di dunia nyata yang mengingatnya, Héctor akan mengalami “Kematian Terakhir”—sebuah konsep di mana roh benar-benar lenyap selamanya.

3. Tema Utama: Tiga Jenis Kematian

Dalam budaya yang digambarkan di Coco, kematian bukanlah akhir yang mutlak. Ada tiga tahap eksistensi:

  1. Kematian Fisik: Ketika tubuh berhenti berfungsi.

  2. Kematian Sosial: Ketika seseorang dimakamkan dan berpindah ke dunia roh.

  3. Kematian Terakhir: Ketika tidak ada lagi orang yang hidup yang menyimpan ingatan tentang orang tersebut.

Film ini mengajarkan bahwa selama kita menceritakan kisah leluhur kita, mereka tetap “hidup” bersama kita. Ini adalah pesan yang sangat kuat bagi anak-anak dan orang dewasa. Di dunia modern yang serba cepat, kita sering melupakan akar kita. Coco mengingatkan kita bahwa kita adalah produk dari perjuangan dan cinta orang-orang sebelum kita.

4. Analisis Karakter: Miguel dan Mama Coco

Miguel mewakili konflik antara ambisi pribadi dan kewajiban keluarga. Dia mencintai keluarganya, tetapi dia merasa tercekik oleh aturan mereka. Transformasi Miguel terjadi ketika dia menyadari bahwa musik seharusnya tidak memisahkan keluarga, melainkan menyatukannya.

Namun, jantung emosional film ini adalah Mama Coco. Meskipun ia jarang berbicara karena usianya yang sudah sangat tua dan ingatannya yang memudar, ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini. Hubungan Miguel dengan Mama Coco menunjukkan bahwa musik memiliki kekuatan melampaui logika; musik bisa membangkitkan memori yang terkubur paling dalam sekalipun.

5. Kekuatan Musik: “Remember Me”

Lagu “Remember Me” (Recuérdame) yang ditulis oleh Kristen Anderson-Lopez dan Robert Lopez adalah pencapaian naratif yang luar biasa. Sepanjang film, lagu ini memiliki dua fungsi:

  • Sebagai Lagu Megah: Di tangan Ernesto de la Cruz, lagu ini adalah lagu showmanship yang penuh percaya diri.

  • Sebagai Lullaby (Lagu Pengantar Tidur): Di tangan Héctor, lagu ini adalah bisikan cinta seorang ayah kepada anaknya agar tidak dilupakan.

Perubahan makna lagu ini di akhir film merupakan salah satu momen paling mengharukan dalam sejarah sinema. Ini membuktikan bahwa konteks dan niat di balik sebuah karya seni jauh lebih penting daripada popularitasnya.

6. Kritik Sosial dan Pesan Moral

Coco juga menyentuh topik tentang integritas dan ketenaran. Karakter Ernesto de la Cruz adalah pengingat bahwa kesuksesan yang dibangun di atas pengkhianatan dan kebohongan adalah kesuksesan yang hampa. Sebaliknya, Héctor, yang terlihat kumal dan gagal, ternyata memiliki kekayaan sejati dalam bentuk cinta yang tulus.

Selain itu, film ini mendefinisikan ulang arti “keluarga”. Keluarga dalam Coco tidak digambarkan sempurna. Mereka bisa keras kepala, protektif secara berlebihan, bahkan salah paham. Namun, pada akhirnya, mereka adalah satu-satunya entitas yang akan memberikan “pemberkatan” tanpa syarat.

7. Dampak Global dan Warisan Film

Sejak perilisannya, Coco telah menjadi fenomena global. Film ini memenangkan dua Academy Awards (Best Animated Feature dan Best Original Song). Lebih dari itu, film ini membuka mata dunia terhadap kekayaan budaya Meksiko yang sering kali disalahpahami dalam media Barat.

Di Meksiko sendiri, film ini menjadi film terlaris sepanjang masa. Warga merasa dihargai karena tradisi mereka diangkat dengan begitu indah tanpa stereotip yang merendahkan.

8. Kesimpulan: Mengapa Kita Masih Membicarakan Coco?

Kita terus kembali menonton Coco karena film ini menyentuh rasa takut terdalam manusia: dilupakan. Kita semua ingin percaya bahwa keberadaan kita di dunia ini akan meninggalkan jejak, minimal di hati orang-orang yang kita cintai.

Coco adalah pengingat visual dan auditif bahwa cinta tidak berhenti saat detak jantung berhenti. Melalui foto, cerita, dan lagu, kita menjaga nyala api kehidupan mereka yang telah mendahului kita. Saat Miguel memetik senar gitarnya dan bernyanyi untuk Mama Coco di akhir film, kita tidak hanya melihat seorang cucu yang menghibur neneknya; kita melihat keajaiban dari memori yang dipulihkan.

Scroll to Top