GOAT Dimulai dari Kandang Kambing 2026

GOAT: Film animasi komedi olahraga dari Sony Pictures tentang seekor kambing yang bermimpi jadi atlet profesional. Seru untuk ditonton bareng keluarga.

GOAT
GOAT

GOAT: Ketika Mimpi Setinggi Langit Dimulai dari Kandang Kambing

Oleh: JETSPIN88
Pada Tanggal: 10/02/2026

Dunia animasi Hollywood selalu punya cara unik untuk memberikan personifikasi pada hewan. Kita sudah melihat tikus yang mahir memasak, panda yang jago kung fu, hingga koala yang mengelola teater. Namun, di tahun 2026 ini, Sony Pictures Animation membawa premis yang lebih segar namun sangat kompetitif melalui film terbaru mereka berjudul GOAT.

Bukan sekadar akronim dari “Greatest of All Time”, film ini secara harfiah menceritakan tentang seekor kambing bernama Gilbert yang memiliki ambisi yang dianggap mustahil oleh kawanannya: menjadi atlet profesional di dunia manusia.

1. Sinopsis: Melawan Kodrat dan Gravitasi

Cerita berfokus pada Gilbert, seekor kambing gunung yang tinggal di sebuah peternakan di pinggiran kota yang gila olahraga. Berbeda dengan kambing lain yang hanya peduli pada rumput segar dan menjilat garam, Gilbert menghabiskan waktunya menonton pertandingan olahraga melalui jendela ruang tamu pemilik peternakan.

Gilbert terobsesi dengan kecepatan, koordinasi, dan semangat kompetisi. Masalahnya hanya satu: dia adalah seekor kambing. Dia tidak memiliki tangan untuk memegang bola, dan suaranya hanya “embik” yang sering disalahartikan sebagai permintaan makan.

Plot mulai memanas ketika sebuah turnamen multisport tingkat dunia diadakan di kota tersebut. Gilbert, dengan bantuan seekor anjing gembala tua yang sinis bernama Buster dan seekor merpati informan bernama Pidge, memutuskan untuk menyelinap ke pusat pelatihan. Di sana, Gilbert harus membuktikan bahwa kelincahan alaminya sebagai kambing gunung bisa dikonversi menjadi kemampuan atletik yang melampaui batas manusia.

2. Pendekatan Visual: Estetika Sony yang Dinamis

Setelah kesuksesan Spider-Man: Into the Spider-Verse dan The Mitchells vs. the Machines, Sony Pictures kembali menggunakan gaya animasi yang “berani”. GOAT tidak menggunakan gaya 3D realistik yang halus seperti Pixar. Sebaliknya, mereka menggunakan gaya yang disebut stylized kinetic.

  • Efek Kecepatan: Saat Gilbert berlari atau melompat, terdapat efek garis-garis aksi (action lines) layaknya komik yang memberikan kesan kecepatan yang luar biasa.

  • Desain Karakter: Gilbert didesain dengan mata yang sangat ekspresif. Tanduknya bukan sekadar hiasan, melainkan elemen yang sering digunakan dalam komedi fisik (slapstick) yang cerdas.

3. Mengapa Film Ini Cocok untuk Keluarga?

Ada beberapa pilar yang membuat GOAT menjadi tontonan wajib bagi orang tua dan anak-anak:

A. Pesan Tentang Resiliensi

Anak-anak akan belajar bahwa menjadi “berbeda” bukanlah hambatan. Gilbert sering ditertawakan, tidak hanya oleh manusia tetapi juga oleh kaumnya sendiri. Kegigihannya untuk tetap berlatih meski tidak memiliki sepatu lari atau fasilitas yang memadai adalah pelajaran moral yang kuat tentang kerja keras.

B. Humor Multilapis

Sony sangat pintar menyelipkan humor. Untuk anak-anak, ada banyak komedi fisik—Gilbert yang terpeleset, atau Buster si anjing yang selalu gagal bersikap keren. Untuk orang dewasa, film ini penuh dengan satire mengenai industri olahraga modern, mulai dari drama endorsement hingga istilah “GOAT” itu sendiri yang sering diperdebatkan di media sosial.

C. Soundtrack yang Membangkitkan Semangat

Musik dalam film ini dikurasi dengan tempo tinggi, menggabungkan elemen hip-hop dan orkestra megah khas film olahraga, yang dijamin akan membuat penonton merasa ingin langsung pergi ke gym atau lapangan lari setelah keluar dari bioskop.

4. Karakter Pendukung yang Mencuri Perhatian

Kekuatan film animasi sering kali terletak pada sidekick-nya.

  • Buster (Anjing Gembala): Dia adalah mentor yang enggan. Sebagai mantan anjing penjaga yang sudah pensiun, Buster memberikan perspektif realitas yang pahit namun penuh kasih sayang kepada Gilbert.

  • The Humans: Menariknya, manusia dalam film ini digambarkan sebagai sosok yang sangat kompetitif namun sering kali “kalah lincah” dibanding Gilbert, menciptakan momen-momen ironi yang lucu.

5. Analisis Tema: “Greatest of All Time”

Judul film ini adalah sebuah pun (permainan kata) yang jenius. Selama ini, label GOAT diberikan kepada atlet seperti Messi, Jordan, atau LeBron James. Film ini mencoba mendefinisikan ulang apa itu “terhebat”. Apakah itu tentang memenangkan medali emas? Ataukah tentang keberanian untuk melompati pagar yang selama ini mengurung potensi kita?

GOAT mengajak kita melihat bahwa kehebatan tidak selalu diukur dari piala di lemari, tapi dari seberapa besar hati yang kita curahkan untuk mengejar sesuatu yang kita cintai.


Kesimpulan

GOAT adalah surat cinta untuk para underdog. Dengan durasi sekitar 95 menit, film ini tidak terasa membosankan karena ritmenya yang secepat lari kambing gunung. Ini adalah film yang akan membuat Anda tertawa, bersorak, dan mungkin sedikit berkaca-kaca saat melihat seekor kambing kecil berdiri tegak di antara para raksasa.

Rating Rekomendasi: 4.5/5 Bintang. Saran: Jangan beranjak dulu saat credit scene dimulai, karena ada cuplikan lucu tentang latihan “yoga kambing” yang sedang tren!

Scroll to Top