Sing Street (2016): Film tentang remaja yang bikin band untuk menarik hati cewek, soundtrack-nya juara. Sing Street (2016) karya sutradara John Carney adalah sebuah surat cinta untuk musik tahun 80-an, masa remaja, dan keberanian untuk bermimpi.

Sing Street: Melodi Perlawanan dan Indahnya Menjadi “Happy-Sad”
Oleh: JETSPIN88
Pada Tanggal: 01/02/2026
Dunia perfilman seringkali menyuguhkan kisah tentang masa muda, namun jarang ada yang mampu menangkap esensi kejujuran dan energi mentah seperti yang dilakukan oleh Sing Street (2016). Disutradarai oleh John Carney—sosok di balik kesuksesan Once dan Begin Again—film ini bukan sekadar drama musikal biasa. Ia adalah sebuah narasi tentang pelarian, pencarian jati diri, dan kekuatan transformatif dari seni di tengah himpitan ekonomi Irlandia tahun 1980-an.
1. Latar Belakang: Dublin yang Kelabu
Cerita bermula di Dublin tahun 1985. Irlandia sedang berada dalam masa resesi hebat. Ribuan orang meninggalkan pulau tersebut menuju Inggris untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di tengah situasi suram ini, kita bertemu dengan Conor “Cosmo” Lawlor (Ferdia Walsh-Peelo), seorang remaja pemalu yang dunianya sedang runtuh. Orang tuanya sering bertengkar karena masalah keuangan, dan dia terpaksa pindah dari sekolah swasta yang nyaman ke Synge Street CBS, sekolah negeri katolik yang keras dan penuh perundungan.
Di sekolah barunya, Conor adalah sasaran empuk. Ia harus berhadapan dengan kepala sekolah yang otoriter, Brother Baxter, dan perundung sekolah bernama Barry. Namun, segalanya berubah saat ia melihat seorang gadis misterius bernama Raphina (Lucy Boynton) yang berdiri di depan sekolah. Demi menarik perhatian Raphina, Conor melakukan tindakan nekat: ia mengaku memiliki sebuah band dan mengajak Raphina menjadi model video klip mereka. Masalahnya satu: band itu belum ada.
2. Kelahiran “Sing Street”
Keajaiban film ini dimulai saat Conor mulai mengumpulkan anggota bandnya. Karakter-karakter pendukung seperti Eamon, sang multi-instrumentalis jenius yang memelihara banyak kelinci, memberikan nuansa komedi yang hangat. Mereka menamai diri mereka “Sing Street”.
Yang membuat band ini unik adalah bagaimana mereka berkembang. Mereka tidak hanya meng-cover lagu orang lain, tetapi menciptakan musik mereka sendiri. Di sinilah peran Brendan (Jack Reynor), kakak laki-laki Conor, menjadi sangat krusial. Brendan adalah mentor musik bagi Conor. Ia memperkenalkan Conor pada band-band era tersebut: The Cure, Duran Duran, A-ha, Hall & Oates, hingga The Jam.
Setiap kali Conor terinspirasi oleh band baru, gaya berpakaian dan genre musik Sing Street pun berubah. Ini adalah representasi visual yang brilian tentang bagaimana remaja mencari identitas dengan cara meniru idola mereka sebelum akhirnya menemukan suara mereka sendiri.
3. Analisis Soundtrack: Jiwa dari Film
Tak mungkin membahas Sing Street tanpa memuji lagu-lagunya. Soundtrack film ini adalah hasil kolaborasi antara John Carney dan Gary Clark. Setiap lagu berfungsi sebagai penggerak plot:
-
“The Riddle of the Model”: Lagu pertama mereka yang kental dengan nuansa New Romantic ala Duran Duran. Video klipnya yang amatir namun penuh semangat menunjukkan kepolosan awal mereka.
-
“Up”: Sebuah balada manis yang menunjukkan kerentanan Conor.
-
“A Beautiful Sea”: Lagu yang lebih berani dan mulai menunjukkan kepercayaan diri band.
-
“Drive It Like You Stole It”: Ini adalah masterpiece dalam film ini. Sebuah lagu power-pop yang meledak-ledak. Adegan bayangan Conor saat merekam video ini—di mana ia membayangkan orang tuanya akur dan sekolahnya menjadi tempat yang menyenangkan—adalah momen paling menyentuh di seluruh film.
-
“Brown Shoes”: Lagu protes terhadap otoritas sekolah yang mengekang ekspresi mereka.
4. Filosofi “Happy-Sad”
Salah satu dialog paling berkesan dalam film ini adalah saat Raphina mengatakan bahwa musik haruslah bersifat “Happy-Sad”. Ini adalah tema sentral film tersebut. Hidup tidak pernah hitam-putih. Kamu bisa merasa sangat bahagia karena jatuh cinta, tapi di saat yang sama merasa sedih karena keadaan sekitarmu yang hancur.
Musik Sing Street menangkap dualitas ini. Mereka menggunakan melodi yang upbeat untuk membungkus lirik yang penuh kerinduan dan pemberontakan. Bagi Conor, musik bukan sekadar hobi, melainkan satu-satunya cara untuk bertahan hidup dari kenyataan pahit di Dublin.
5. Hubungan Kakak-Beradik
Meskipun premis utamanya adalah tentang Conor yang mengejar Raphina, banyak penonton yang setuju bahwa hati dari film ini sebenarnya adalah hubungan antara Conor dan Brendan.
Brendan adalah karakter yang tragis. Ia memiliki bakat dan mimpi, namun ia “terjebak” di rumah karena depresi dan kegagalan sistem. Ia melampiaskan kegagalannya dengan menjadi pelindung bagi adik laki-lakinya. Brendan memastikan Conor tidak berakhir seperti dirinya. Dedikasi film ini, “For brothers everywhere”, menegaskan bahwa Sing Street adalah tentang bagaimana kita saling mengangkat satu sama lain melalui seni.
6. Visual dan Estetika 80-an
Visual film ini sangat jujur. Dublin digambarkan dengan palet warna yang agak pudar dan kelabu, yang sangat kontras dengan pakaian band Sing Street yang semakin lama semakin berwarna-warni dan berani (meskipun terkadang terlihat konyol). Sinematografinya memberikan kesan nostalgia tanpa terasa seperti komoditas yang dipaksakan. Kita bisa merasakan tekstur pita kaset, dinginnya air laut Dublin, dan kepulan asap rokok di kamar Brendan.
7. Kesimpulan: Mengapa Anda Harus Menontonnya?
Sing Street adalah pengingat bahwa masa muda adalah tentang keberanian untuk terlihat bodoh demi sesuatu yang kamu cintai. Film ini tidak berakhir dengan resolusi “bahagia selamanya” yang klise, melainkan dengan sebuah harapan. Di akhir film, saat Conor dan Raphina berangkat menuju London dengan perahu kecil di tengah badai, kita tidak tahu apakah mereka akan berhasil. Namun, itu tidak masalah. Yang penting adalah mereka memiliki keberanian untuk mencoba.
Film ini adalah tontonan wajib bagi siapa saja yang pernah merasa terasing, siapa saja yang mencintai musik, dan siapa saja yang percaya bahwa seni bisa menyelamatkan hidup kita.

