Mickey 17: Film Sci-Fi dari sutradara Bong Joon-ho (Parasite) yang dibintangi Robert Pattinson. Mickey 17, sebuah mahakarya fiksi ilmiah dari Bong Joon-ho yang telah menjadi salah satu film paling dibicarakan di era perfilman modern ini.
Oleh: MELEDAK77
Pada Tanggal: 01/01/2026

Dunia perfilman global selalu menahan napas setiap kali nama Bong Joon-ho muncul di kredit sutradara. Setelah kesuksesan fenomenal Parasite (2019) yang menyapu bersih panggung Oscar, ekspektasi terhadap karya berikutnya berada di level yang hampir mustahil untuk dipenuhi. Namun, melalui Mickey 17, Bong membuktikan bahwa ia tidak hanya mampu melampaui ekspektasi tersebut, tetapi juga mampu mendefinisikan ulang genre fiksi ilmiah (sci-fi) dengan gaya satir yang tajam, humor gelap, dan pertanyaan filosofis yang menghantui.
Diadaptasi dari novel Mickey 7 karya Edward Ashton, film ini bukan sekadar petualangan luar angkasa biasa. Ini adalah sebuah otopsi terhadap nilai kemanusiaan di bawah tekanan korporasi masa depan.
Sinopsis dan Premis: Kematian Sebagai Rutinitas Kerja
Cerita berpusat pada Mickey Barnes (diperankan dengan luar biasa oleh Robert Pattinson), seorang pria yang mengambil pekerjaan yang mungkin terdengar paling buruk dalam sejarah umat manusia: menjadi seorang Expendable.
Dalam misi kolonisasi umat manusia di planet es yang keras bernama Niflheim, Mickey adalah aset yang bisa dibuang. Jika ada tugas yang terlalu berbahaya—seperti memperbaiki reaktor nuklir yang bocor atau menjelajahi medan yang terpapar radiasi mematikan—Mickey-lah yang dikirim. Jika ia mati, tubuhnya akan dicetak ulang (dikloning) melalui printer biologis canggih dengan sebagian besar ingatannya yang tetap utuh.
Konflik utama dimulai ketika Mickey 7 (iterasi ketujuh) mengalami kecelakaan namun tidak mati. Saat ia berhasil kembali ke markas, ia menemukan bahwa Mickey 8 sudah dicetak dan menjalankan tugasnya. Dalam dunia di mana keberadaan dua klon sekaligus dianggap sebagai “kelainan” yang harus dimusnahkan, Mickey harus bersembunyi dari sistem sambil mempertanyakan: siapakah sebenarnya pemilik nyawanya?
Analisis Karakter: Robert Pattinson dan Dualitas Identitas
Robert Pattinson memberikan performa yang mungkin akan menjadi tonggak sejarah kariernya. Bermain sebagai dua versi dari karakter yang sama—Mickey 7 dan Mickey 8—Pattinson menunjukkan rentang akting yang luar biasa.
-
Mickey 7 digambarkan sebagai sosok yang lelah, traumatis, dan penuh keraguan. Ia telah merasakan kematian berkali-kali, dan setiap kematian meninggalkan goresan mental yang tidak bisa dihapus oleh printer biologis.
-
Mickey 8, di sisi lain, tampil lebih agresif, sombong, dan merasa sebagai “versi yang lebih baik”.
Interaksi antara kedua Mickey ini sering kali menjadi sumber komedi gelap sekaligus momen paling filosofis dalam film. Bong Joon-ho menggunakan dualitas ini untuk bertanya kepada penonton: Apakah jiwa tersimpan dalam memori, ataukah identitas kita hanyalah sekumpulan daging yang bisa diganti?
Visi Visual Bong Joon-ho: Keindahan di Tengah Kedinginan
Secara visual, Mickey 17 adalah sebuah tontonan yang megah. Bong, bekerja sama dengan sinematografer kaliber dunia, menciptakan kontras yang tajam antara keindahan alam semesta yang tak terbatas dengan klaustrofobia di dalam markas koloni.
Planet Niflheim digambarkan sebagai tempat yang sangat indah namun mematikan—padang salju abadi yang berkilau di bawah cahaya bintang, namun mampu membekukan manusia dalam hitungan detik. Di sisi lain, interior kapal koloni terasa sangat fungsional, dingin, dan “murah”, mencerminkan pandangan korporasi terhadap para pekerjanya.
Efek visual (VFX) dalam film ini digunakan dengan sangat cerdas. Proses “pencetakan ulang” tubuh Mickey ditampilkan dengan detail yang mencengangkan sekaligus sedikit mengerikan, mempertegas pesan bahwa dalam sistem ini, manusia hanyalah “suku cadang” biologis.
Tema Sentral: Kritik Sosial dan Satir Kapitalisme
Jika Parasite membahas tentang kelas sosial di dalam sebuah rumah, Mickey 17 membahas tentang eksploitasi kelas pekerja dalam skala kosmik.
1. Komodifikasi Nyawa Manusia
Bong Joon-ho sangat piawai dalam menyelipkan kritik tajam tentang bagaimana sistem kapitalisme ekstrem melihat individu. Mickey bukan lagi manusia; ia adalah nomor seri. Ia adalah properti perusahaan. Kematiannya bukan tragedi, melainkan “biaya operasional”. Ini adalah refleksi pahit tentang bagaimana dunia kerja modern sering kali memperlakukan pekerja sebagai angka-angka yang bisa diganti kapan saja.
2. Pertanyaan Eksistensial
Film ini memaksa kita merenungkan teori kapal Theseus: Jika semua bagian dari sebuah kapal diganti, apakah itu masih kapal yang sama? Jika Mickey mati dan memorinya dipindahkan ke tubuh baru, apakah itu masih Mickey? Ketakutan Mickey 7 saat melihat Mickey 8 bukan hanya ketakutan akan kematian fisik, tetapi ketakutan akan kehilangan keunikan dirinya.
3. Ekologi dan Kolonisasi
Latar belakang kolonisasi planet luar juga menyentuh isu lingkungan. Mengapa manusia harus bersusah payah tinggal di planet es yang mematikan? Karena Bumi sudah tidak lagi bisa dihuni. Bong kembali mengingatkan kita pada tema-tema yang pernah ia angkat di Snowpiercer, tentang sisa-sisa umat manusia yang mencoba bertahan hidup di lingkungan yang mereka rusak sendiri.
Humor Gelap: Oase di Tengah Ketegangan
Salah satu kekuatan utama Mickey 17 adalah kemampuannya untuk membuat penonton tertawa di saat-saat yang paling tidak pantas. Humor gelap khas Bong Joon-ho hadir lewat dialog-dialog absurd mengenai kematian. Misalnya, bagaimana para kru koloni membicarakan “kematian Mickey selanjutnya” seolah-olah sedang membicarakan jadwal makan siang.
Pattinson menunjukkan bakat komedinya yang terpendam melalui ekspresi wajah yang datar saat menghadapi situasi yang mustahil. Humor ini sangat penting karena mencegah film ini menjadi terlalu berat atau depresif, menjadikannya tontonan yang tetap menghibur meski memiliki tema yang sangat dalam.
Perbandingan dengan Karya Bong Sebelumnya
Bagi penggemar lama Bong Joon-ho, Mickey 17 terasa seperti evolusi dari Snowpiercer (2013) dan Okja (2017).
-
Seperti Snowpiercer, film ini memiliki latar tempat yang terisolasi dan sistem sosial yang kaku.
-
Seperti Okja, film ini memiliki hati yang besar dan kritik terhadap korporasi global yang tidak berperasaan.
-
Namun, Mickey 17 terasa lebih matang dalam hal narasi dan memiliki skala yang jauh lebih besar. Ini adalah film paling ambisius Bong Joon-ho sejauh ini dalam hal penggunaan teknologi perfilman.
Musik dan Desain Suara
Skor musik yang digarap oleh kolaborator setia Bong memberikan atmosfer yang unik. Musiknya tidak selalu menggunakan orkestra megah khas film luar angkasa Hollywood, melainkan sering menggunakan ritme yang aneh dan eksperimental yang menekankan ketidakteraturan mental yang dialami oleh Mickey. Desain suaranya juga patut diacungi jempol—suara printer biologis yang berdesis dan keheningan ruang hampa menciptakan kontras yang membuat bulu kuduk berdiri.
Mengapa Anda Harus Menonton Mickey 17?
Dalam era di mana bioskop dipenuhi dengan sekuel, reboot, dan film pahlawan super, Mickey 17 muncul sebagai sebuah anomali yang menyegarkan. Ini adalah film orisinal (meski adaptasi) yang berani mengambil risiko. Ia tidak takut menjadi aneh, tidak takut menjadi politis, dan tidak takut untuk membuat penontonnya berpikir keras setelah keluar dari studio.
Ini adalah film “enak” dalam arti yang sesungguhnya: kaya akan rasa, memiliki tekstur cerita yang dalam, dan meninggalkan kesan yang tahan lama.
Kesimpulan
Mickey 17 adalah bukti nyata bahwa Bong Joon-ho adalah salah satu sutradara terbaik yang hidup saat ini. Dengan memadukan performa akting brilian dari Robert Pattinson, visual yang memukau, dan narasi yang menantang pikiran, film ini berhasil menjadi mahakarya fiksi ilmiah baru.
Ia mengajarkan kita bahwa meski teknologi bisa mencetak tubuh berkali-kali, pengalaman, luka, dan cinta yang kita rasakan adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa diduplikasi. Jika Anda mencari film yang memberikan aksi, tawa, dan renungan mendalam tentang apa artinya menjadi manusia, maka Mickey 17 adalah jawabannya.

